Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

IBADAH RAMADAN UPAYA MENGAPAI JIWA MUTMAINAH

 

السلام وعليكم ورحمة الله وبركاتة


الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ س مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ . وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا اللهُ الله أكبر الله أكبر ولله الحمدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah!

              Puji syukur kita panjatkan ke hadhirat Allah Swt yang telah menganugerahkan Ramadan kepada kita sehingga kita bisa mencukupkan bilangannya dengan puasa, qiyamul lail, tadarus Al Qur’an  bersedah dll. Dan hari ini kita angungkan asmaNya sesuai petunjuk dariNya agar kalin bersyukur. Firman Allah Swt Al Baqarah 185:

 وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

          Setelah kita mengerjakan suatu aktifitas patut kita evaluasi. Dalam ilmu management ada namanya monev (monitoring evaluasi) dan dalam bahasa Al Qur’an ada perintah : Surat Al-Hasyr Ayat 18

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

الله اكبر  الله اكبر  لا اله الاالله الله اكبر   لله الحمد

Jama’ah Idul Fitri yang Dirahmati Allah!

1.    Tujuan Puasa

 

 Ramadan dihadirkan oleh Allah SWT untuk meningkatkan derajat orang yang telah beriman (mukimin) menuju manusia yang bertakwa (mutaki)  sebagaimana firman Allah  Swt  dalam Al Baqarah  ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Panggilan puasa ditujukan kepada  orang yang beriman, Allah Swt. tidak menggunakanاسلموا  ياايهاالذين (wahai orang yang beragama Islam) karena yang mau dan mampu menjalankan puasa hanyalah orang yang beriman. Secara hierarkis iman lebih tinggi dari islam. Firman Allah SWT  surat Al Hujurat 14:

قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu.

الايمان :تصديق بالقلب، إقرار باللسان، وعمل بالجوارح

Iman itu membenarkan dalam hati, menyatakan dengan ucapan dan melaksanakan dengan aktifitas fisik. Banyak orang Islam yang tidak puasa, Islam KTP , tidak ada iman KTP.

Tujuan semua ibadah, termasuk puasa adalah untuk menggapai takwa, sementara ujung ayat puasa menggunakan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ yang merupakan kalimat  tarajji, maksudnya  bahwa orang yang berpuasa berharap menjadi orang yang bertakwa. Sehingga tidak serta merta orang berpuasa menggapai takwa, sesuai statemen Rasulullah SAW  dari Abu Hurairah,

  رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ 

Artinya, "Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun (shalat) malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya rasa capek saja.” (HR. An-Nasai, Ibnu Majah dan  Al-Hakim).

الله اكبر  الله اكبر  لا اله الاالله الله اكبر   لله الحمد

Jama’ah Idul Fitri yang Dirahmati Allah!

              Sering kita dengar bahwa manusia itu ada unsur: lahir – batin, jasmani – ruhani, jiwa -  raga, fisik – non fisik. Semua ibadah, termasuk puasa itu memberi nutrisi kepada batin/jiwa/ruhani agar menjadi sehat dan kuat, meskipun hikmahnya (حكمة التشريع) boleh jadi dengan puasa badan/raga/jasmani menjadi sehat.

Karena ibadah itu asupan gizi ruhani/jiwa, maka kualitasnya  tergantung bagimana cara kita mengolah/menjalankan berdasarkan resep/panduan (guidance) dari Allah dan RasulNya. Langkah awal ibadah adalah  niat, niat ibadah harus semata-mata karena Allah SWT, bukan karena manusia atau hal keduaniaan lainnya. Pelaksanaannya harus  sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya, harus sungguh sungguh dan istiqamah. Dalam hal puasa tidak hanya menahan kebutuhan fisik: makan, minum dan berkumpul suami-istri, tapi juga puasa jiwa/ruhani berupa meninggalkan semua yang mengotori ruhani/jiwa: syirik, hasad, bohong/hoak, khianat, dlalim dsb. Kalau hanya fisik yang berpuasa rohani/jiwa tidak puasa wajar kalau hanya dapat lapar dan dahaga.

الله اكبر  الله اكبر  لا اله الاالله الله اكبر   لله الحمد

Jama’ah Idul Fitri yang Dirahmati Allah!

2.    Eksitensi Jiwa

Dalam ayat-ayat Al Qur’an maupun hadis dijelaskan bahwa penciptaan manusia dimulai dari jasadnya , jika jasadnya telah sempurna maka ditiupkan ruh padanya oleh Malaikat, sesuai firman Allah Swt:

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ۝٩

Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur. (As-Sajdah · Ayat  9).

Ruh ditiupkan ke jasad saat kandungan  umur 4 bulan/120 hari dan sejak itu telah ada kehidupan, sebagaaimana hadis dari Ibnu Mas’ud RA:

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

 ”Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya,….

Menurut Imam Al Qurtubi dalam kitab Tadzkirah dan Ustaz Adi Hidayat dalam ceramahnya bahwa  ketika ditiupkan ruh pada jasad manusia, maka ruh  bersinergi dengan jasad dan melahirkan nafs atau jiwa yang memiliki sifat fujur dan takwa Firman Allah Swt:

 وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ ۝٧ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ۝٨ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

الله اكبر  الله اكبر  لا اله الاالله الله اكبر   لله الحمد

Jama’ah Idul Fitri yang Dirahmati Allah!

Ruh berasal langsung dari Allah Swt, maka dia suci dan membawa potensi takwa: kejujuran, keadilan, amanah, kebenaran, kesabaran dst. Sementara jasad berasal dari tanah, dimana tanah itu ada tanah merah, hitam, tanah longsor, bahkan tanah sengketa, membawa potensi fujur: dusta, hasad, dhalim dsb. Saat janin di perut ibu dan membutuhkan asupan nutrisi melalui ibunya, maka boleh jadi makanan yang dikonsumsi oleh ibunya ada rezeki yang tidak halal sehingga menambah  potensi fujur pada jiwa.

Ketika  sudah ditiup ruh maka bayi sudah hidup sehingga prilaku orang tua bisa mempengaruhi perkembangan jiwanya, orang tua yang  prilakunya suka maksiat  dapat menambah potensi fujur bayi yang dikandung, sebaliknya orang tua yang shaleh dan shalihah dapat mengembangkan potensi takwa.

Setelah manusia lahir ke dunia kedua potensi itu akan terimplementasi dalam kehidupan nyata, mana yang dominan berkembang tergantung kedua orang tua dan lingkungan. Sebagaimana sabda Beliau SAW:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ, فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ .

Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan), ia berkata, Nabi saw bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orangtuanya lah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak” [HR. al-Bukhari nomor 1385].

Ketika manusia telah tumbuh dewasa mencapai usia akil baligh, maka akan menjadi mukalaf, menerima beban hukum dan semua amalnya dicatat oleh Malaikat sepanjang hayatnya. Perjalanan manusia sepanjang hayat hakekatnya adalah pertarungan antara fujur dan takwa dan yang  menang tentu yang sehat dan kuat.

Fisik  sehat dan kuat  jika asupan gizinya cukup, empat sehat lima sempurna atau gizi berimbang, istirahat cukup, olah raga dan menjaga kebersihan  diri dan lingkungan. Demikan pula jiwa, bila ingin sehat dan kuat butuh asupan makanan berupa ibadah, nasehat agama/siraman rohani, berfikir positif dan dekat dengan Allah SWT serta menjaga segala hal yang dapat mengotorinya.. Sebaliknya, jika jiwa dikotori dengan perbuatan maksiat dan dosa, maka yang dominan dalam jiwa adalah sifat fujur yang membawa  malapeta dunia dan akhirat.

Ramadan dianugerahkan Allah Swt.  kepada insan beriman dalam rangka memberikan nutrisi positif sekaligus membersihkan jiwa  agar sifat takwa semakin kokoh, kuat dan  stabil sepanjang hayatnya. Output dari ketakwaan melahirkan jiwa yang tenang dan damai dalam menjalani hidup dan kehidupan  yang termanefestasi dalam prilaku keseharian dalam bentuk  akhlak yang terpuji.

الله اكبر  الله اكبر  لا اله الاالله الله اكبر   لله الحمد

Jama’ah Idul Fitri yang Dirahmati Allah!

3.    Takwa Melahirkan Nafsu Mutmainah

Menurut Imam Al Ghozali jiwa atau nafs dikelompokkan menjadi tiga jenis. Jenis  paling rendah disebut  nafsu amarah, jenis sedang disebut nafsu lawwamah dan jenis paling tingga disebut nafsu mutmainah.

Nafsu amarah selalu mengajak kepada perbuatan mungkar dan  fakhsya (kepentingan perut dan dibawah perut) yang merupakan pengejawentahan sifat fujur. Firman Allah Swt

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan aku tidak berlepas  dari nafsu , karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.(Yusuf : 53)

Manakala manusia dikuasi nafsu amarahnya, maka prilakunya akan selalu buruk dimanapun posisnya. Jadi pejabat tidak amanah dan menyalahgunakan kewenanganya, bahkan bisa korupsi sampai 1000 triliun. Bisa jadi preman , penipu, pembunuh dsb.

Nafsu pada posisi tengah dinamakan nafsu  lawwamah terdapat pada firman-Nya:

وَلَآ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ

Artinya: Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).QS.Al-Qiyamah:2).  Dalam banyak tafsir diungkapkan bahwa nafsu lawwamah adalah nafsu yang galau dan tidak tenang/labil, kadang cendrung kepada kebaikan dan kadang pada keburukan serta menyesali diri. Maksudnya, jika ia berbuat kebaikan ia menyesal mengapa tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan dia menyesali atas kejahatan yang dia perbuat, namun terkadang masih mengulangi kejahatannya.

Nasfu tertinggi tingkatannya adalah nafsu mutmainah yang bersemayam pada orang yang bertakwa, terimplementasi pada prilaku yang tenang, santun dan bahagia. Jiwa Muthmainnah tidak bisa diperoleh dengan instan, tapi perlu perjalanan panjang dan istiqamah. Istiqamah mengisi hati dengan akidah shahihah dan amal shaleh, berfikir positif dan berdzikir. Firman Allah Swt.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

الله اكبر  الله اكبر  لا اله الاالله الله اكبر   لله الحمد

Jama’ah Idul Fitri yang Dirahmati Allah!

Disamping istiqamah dalam kebaikan juga berjuang keras melawan hawa nafsu, meskipun dalam jangka pendek bila keinginan nafsu tidak dituruti tampak tidak menyenangkan, tapi kehidupan dalam jangka panjang, terlebih di akhirat akan memetik kebahagian.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

 

Artinya: Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya. (Surat An-Nazi’at Ayat 40-41).

Pergumulan panjang antara fujur dan takwa selama hayat dikandung badan akan direkam  oleh malaikat Raqib Atid: Surat Qaf Ayat 18:    مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدArtinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Kelak tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawabannya. Firman-Nya QS al-Muddassir/74:38.

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Artinya: Tiap-tiap jiwa  bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Setiap jiwa tertawan/tergadai (tidak terbebas) dari apa yang pernah dilakukannya, inilah dasar bahwa “jiwalah yang harus bertanggung jawab”. Jadi yang dicabut dari raga manusia adalah ruh yang berlabel amal yang disebut nafs/jiwa. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ (Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati – Ali Imran 185)

Harapan kita semua, dengan anugerah Ramadan yang selalu berulang setiap tahun, dapat  menjadikan diri kita mengalami pertumbuhan nafsu kearah positif  secara berkesinambungan seiring dengan umur kita, semakin tua jiwa semakin tenang dan dewasa, sehingga ketika dipanggil oleh Allah SWT kita pada level nafsu tertinggi, yakni nafsu mutmainah dan menggapai husnul khatimah. Firman Allah Swt:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(al-Fajr: 27-30).

Akhirnya marilah kita memanjatkan do’a kehadirat Allah SwT. Mudah mudahan Allah berkenan mengabulkan doa kita. 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ .يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ .اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. اللَّهُمَّ إِنّا نعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْب لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْس لَا تَشْبَعُ وعِلْم لَا يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Posting Komentar untuk "IBADAH RAMADAN UPAYA MENGAPAI JIWA MUTMAINAH"